UMKM Cibeureum dan Citeko Didorong Naik Kelas Guna Menopang Pariwisata Puncak

CISARUA — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pakuan mendorong pelaku UMKM di Desa Cibeureum dan Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, untuk memperkuat kapasitas usaha agar mampu menangkap peluang pertumbuhan pariwisata di Kawasan Puncak. Tim pengabdi bersama para pelaku UMKM dalam rangkaian kegiatan pendampingan di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

 

Program tersebut dilaksanakan selama delapan bulan pada 2026 dengan ketua tim Ir. Iman Hilman, M.M. Kegiatan diarahkan untuk menjembatani potensi produk lokal dengan kebutuhan pasar wisata, sekaligus membantu pelaku usaha mengatasi persoalan manajemen pemasaran dan keterbatasan modal.

Kawasan Puncak merupakan salah satu tujuan wisata populer di wilayah Jabodetabek. Dalam laporan kegiatan, data BPS Kabupaten Bogor menunjukkan pada 2023 total kunjungan wisatawan mencapai 6,31 juta orang, dengan sekitar 2,56 juta kunjungan ke Puncak. Pada 2024 total kunjungan tercatat sekitar 6 juta orang, sementara kunjungan ke akomodasi di Puncak meningkat 6,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Besarnya aktivitas wisata tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh pelaku UMKM. Hasil diskusi tim pengabdi dengan Forum Pelaku UMKM Kecamatan Cisarua menunjukkan bahwa sebagian pelaku usaha makanan olahan masih lebih banyak menjadi penonton dari perkembangan pariwisata. Persoalannya bukan semata-mata pada kemampuan memproduksi, tetapi juga pada kemampuan membaca pasar, mengemas produk, membangun merek, serta memperoleh pembiayaan untuk mengembangkan usaha.

Dari diskusi dengan Forum UMKM Kecamatan Cisarua dan Pemerintah Desa Cibeureum, tim mengidentifikasi tiga persoalan utama: keterbatasan kemampuan manajemen dan pemasaran; keterbatasan modal karena sebagian produk dibayar dengan sistem tempo hingga satu sampai satu setengah bulan; serta belum optimalnya keberadaan lembaga seperti BUMDesa atau koperasi yang dapat membantu menjembatani kebutuhan permodalan UMKM.

Karena itu, pendampingan dirancang tidak berhenti pada pelatihan, tetapi diarahkan pada keluaran yang dapat digunakan pelaku usaha. Tiga agenda utama ditempuh, yakni penyusunan bauran pemasaran, penyusunan proposal bisnis untuk pembiayaan, dan pendampingan komunikasi dengan lembaga yang berpotensi menyediakan modal.

Dari Produk ke Pasar, Pendampingan Berbasis Kebutuhan. Tahap awal dilakukan melalui kunjungan ke Desa Cibeureum pada 28 Januari 2026. Tim menjelaskan program sekaligus menggali kebutuhan dan harapan pelaku usaha. Dalam pertemuan di Aula Kantor Desa Cibeureum, tim diterima Kepala Desa Cibeureum dan Ketua Forum UMKM Kecamatan Cisarua serta berdialog dengan 16 pelaku UMKM yang menghasilkan beragam produk, antara lain kue gemblong, kue kering, kue basah, yoghurt, dan produk toko kue.

Pendekatan pemasaran kemudian diperdalam pada kunjungan kedua melalui workshop di Aula Balai Desa Cibeureum pada 16 April 2026. Pelaku UMKM dari Desa Cibeureum dan Desa Citeko mendapatkan pemahaman mengenai strategi marketing mix serta branding dan packaging. Pendampingan mendorong pelaku usaha melihat produk bukan hanya dari sisi kemampuan produksi, tetapi dari kebutuhan pasar dan karakter konsumen wisata.

Dalam proses penyusunan bauran pemasaran, tim menggunakan kerangka 7P—produk, harga, tempat, promosi, people, process, dan physical evidence. Penyusunannya didahului penggalian informasi dari pelaku UMKM dan pelaku usaha wisata seperti hotel, restoran, serta pengelola destinasi. Dengan cara tersebut, strategi pemasaran diharapkan lebih dekat dengan kebutuhan pasar dan tidak semata mempertahankan pola usaha yang selama ini berjalan.

Agenda berikutnya adalah penguatan kemampuan mengakses pembiayaan. Pada kunjungan ketiga, 14 Juli 2026 di Aula Kantor Kecamatan Cisarua, pelaku UMKM mendapatkan pendampingan penyusunan proposal bisnis serta penjelasan mengenai persyaratan dan prosedur pengajuan pembiayaan perbankan. Informasi mengenai pembiayaan disampaikan langsung oleh Bank BJB Cabang Cibinong Kabupaten Bogor.

Pendampingan pembiayaan tidak hanya diarahkan kepada perbankan. Tim juga mengidentifikasi peluang melalui BUMDesa, koperasi, serta program CSR/TJSL perusahaan swasta maupun BUMN. Tujuannya membuka lebih banyak jalur pembiayaan yang sesuai dengan kesiapan usaha dan kebutuhan pengembangan masing-masing UMKM.

Hasil dan Arah Lanjutan, Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pelaku UMKM mengenai strategi bauran pemasaran, penyusunan proposal bisnis, serta persyaratan dan prosedur pengajuan pembiayaan. Salah satu keluaran penting yang telah dihasilkan adalah strategi bauran pemasaran untuk sejumlah produk UMKM Desa Cibeureum dan Desa Citeko. Marlin, ketua Forum UMKM Kecamatan Cisarua, menilai kegiatan ini sangat bermanfaat bagi peningkatan kapasitas pelaku UMKM di Kecamatan Cisarua. “Saya sangat berterima kasih kepada FEB Universitas Pakuan yang telah melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Kecamatan Cisarua. Insya Allah ilmu yang disampaikan dan kegiatan pendampingan yang telah dilaksanakan, sangat bermanfaat bagi teman-teman kami pelaku UMKM di Kec, Cisarua” ujarnya.

Tim pengabdi menilai potensi UMKM di kedua desa cukup besar untuk berkontribusi terhadap perkembangan wisata Puncak. Produk makanan dan minuman yang dihasilkan beragam dan dinilai memiliki kualitas, namun pengembangannya masih perlu diselaraskan dengan perubahan pasar dan kebutuhan wisatawan. Tantangan berikutnya adalah memastikan strategi yang telah disusun benar-benar diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.

Bagi kawasan wisata seperti Puncak, penguatan UMKM menjadi penting karena manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya ditentukan oleh jumlah wisatawan, tetapi juga oleh kemampuan usaha lokal memasok produk dan jasa yang dibutuhkan. Ketika produk lokal mampu memenuhi standar pasar, memiliki kemasan dan merek yang kuat, serta didukung modal kerja yang memadai, peluang keterhubungan antara pariwisata dan ekonomi masyarakat menjadi lebih besar.

Program pengabdian FEB Universitas Pakuan ini memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan pendampingan berkelanjutan. Tantangannya bukan sekadar membuat produk, melainkan membangun usaha yang mampu membaca pasar, menjalin hubungan dengan pelaku wisata, mengelola arus kas, dan mengakses sumber pembiayaan. Dengan fondasi tersebut, UMKM Cibeureum dan Citeko diharapkan semakin siap menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata Puncak. (HRL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed