Ikhlas itu kata yg mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dilaksanakan. Ikhlas itu merupakan energi positif yg bersumbet dari kejernihan hati yang membuat diri kita tahan segala macam godaan, termasuk setan. Ikhlas juga menjadi penentu diterima tidaknya amal ibadah kita.
Nabi SAW pernah bersabda: “Setiap manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu, dan orang yang berilmu akan binasa kecuali yang beramal (dengan ilmunya), dan orang yang beramal juga binasa kecuali yang ikhlas (dalam amalnya)”.
Dalam tradisi tasawuf, ikhlas itu biasanya diklasifikasikan atau dikategorikan menjadi tiga. Pertama, Ikhlas orang awam, adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan rasa takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.
Kedua, Ikhlas Khawas, ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang dekat dengan Allah, dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.
Ketiga, Ikhlas Khawas al-Khawas adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus dan keinsafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Allah-lah Tuhan yang al-Haqq.
Yang terpenting dari semua itu adalah berbuat semata-mata karena-Nya dan demi mendapatkan ridha-Nya. Dengan demikian, ikhlas merupakan komitmen tertinggi yang seharusnya ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya: sebuah komitmen tulus yang sering dinyatakan dalam doa iftitah, yaitu: Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati LILLAHI Rabbi al-‘alamin (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Tuhan semesta alam). (QS. al-An’am/6: 162)
Dengan begitu, kita hanya belajar ikhlas tetapi berikhtiar menjadi mukhlas, satu level di atas mukhlish, yg oleh al-Quran dinarasikan sebagai hamba memiliki antivirus riya’ dan antigodaan setan. Nabi Yusuf AS antara lain termasuk hamba Allah yg memiliki antivirus superkuat utk melawan godaan perempuan dan setan.
Akhirnya, ikhlas terkadang perlu diilustrasikan dengan, maaf, “setoran tunai dari knalpot diri kita masing-masing”. Meski semula yg kita makan itu aneka makanan yg serba lezat dan mahal harganya, tapi kita “melepaskannya” dg penuh ketulusan: tanpa ditengok-tengok lagi dan segera dilupakan. Mudah-mudahan kita selalu belajar dan menjadi mukhlis sekaligus mukhlas. Wallahu a’lam












