Dinamika News, Bogor — Sebagai bentuk syukur peringatan Hari Jadi Bogor ke-538, Komunitas Gerakan Bogor Hejo menanam sedikitnya 538 pohon di kawasan Situs Megalitikum Keramat Pasir Gunung Salak Kp Calobak Desa Tamansari Kabupaten Bogor. Pengamanan pohon berlangsung selama dua hari, Kamis-Jum’at, 17-18 Juni 2020.
Inisiator Bogor Hejo, Gerakan Menanam Satu Juta Pohon, Ahmad Fahir mengatakan penanaman 538 pohon sebagai wujud syukuran Bulan Hari Jadi Bogor ke-538 atau Napak Tilas Penobatan Maharaja Sunda Pajajaran Eyang Prabu Siliwangi yg ke-538 (3 Juni 1482 – 3 Juni 2020).
“Sebelum pelaksanaan penanaman pohon kami berdoa bersama-sama dan membacakan sholawat alam serta tawassul kubro pada masyaikh dan para karuhun Sunda untuk keselamatan bangsa,” katanya.
Fahir menjelaskan peluncuran “Bogor Hejo, Gerakan Menanam Satu Juta Pohon dan Syukuran Hari Jadi Bogor ke-538/ Napak Tilas Penobatan Maharaja Sunda Pajajaran Eyang Prabu Siliwangi ke-538 diikuti 18 orang pegiat muda budaya Sunda, penggerak lingkungan, pecinta ziyarah, dan kaum muda santri. Kolaborasi gerakan muda Nahdlatul Ulama dan insan budaya Sunda Kabupaten dan Kota Bogor.
“Bentuk gerakan bersifat partisipasi komunitas mastarakat secara berjelanjutan, dg aksi nyata penanaman dan edukasi dan pelibatan masyarakat luas, pondok pesantren, komunitas adat dan budaya sunda, pemuda dan pecinta lingkungan,” ujarnya.
Ahmad Fahir yang menjabat Ketua Bidang Infokom Dewan Adat Sunda Langgeng Wisesa berharap semoga perjuangan dan cita-cita mulia menanam satu juta pohon di wilayah kaki Gunung Salak, kawasan Geopark Nasional Pongkor dan umumnya wilayah Kabupaten dan Kota Bogor, diridhai Allah, disambut alam dan didukung masyarakat luas.
“Semoga “tanah penuh legenda Bogor” yang kita huni semakin lestari, untuk saat ini dan masa yang akan datang. Mari, bersama kita bumikan warisan nilai adiluhung leluhur Sunda, hidup selaras dengan alam, yang selalu relevan hingga kapanpun untuk menjaga ancaman kepunahan ekosistem dan menghindari bencana kemanusiaan,” tegas Fahir yang juga sebagai Ketua Yayasan At-Tawassuth Bogor.
Jagi Gunungna, Lestarikeun Alamna, Tanjerkeun Budayana.” Sesusi falsafah hidup urang Sunda: “Silih asih, silih asah, silih asuh.” Sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW : “Tidak seorang Muslim pun yang menanam tanaman, kemudian dimakan oleh burung atau manusia, melainkan baginya hal itu merupakan sedekah.” (HR. Bukhari & Muslim)
(Syamsuddin)










